Senin, 09 Februari 2015

Menjadi Dewasa

Kebalikan dari menjadi dewasa adalah menjadi anak-anak. Meskipun dua frasa tersebut tidak sepenuhnya bertolak belakang, namun dua hal tersebut memiliki banyak perbedaan. Ketika anak-anak, kita membutuhkan tanda tangan orang tua atau wali pada setiap keterlibatan kita terhadap hal-hal administratif. Ketika dewasa, kita bisa menandatangani sendiri surat-surat tersebut. Kita bisa membuka rekening bank sendiri, membuat surat perjanjian sendiri, mengikuti pemilu, berpergian jauh sendiri, dan juga menanggung dosa sendiri.

Seberapa kuatpun pengaruh wali dalam mengatur rekening bank atau membuat surat perjanjian, jika ada masalah, kitalah yang bertanggung jawab atas masalah tersebut. Jika kita melanggar isi surat perjanjian misalnya, kitalah yang terkena hukuman. Wali dan keluarga bisa membantu, namun kitalah yang harus menghadapi masalah tersebut.

Kita memang tidak bisa sepenuhnya lepas dari orang-orang yang membesarkan kita. Kita tidak bisa sepenuhnya lepas dari asal-usul kita. Akan tetapi, kitalah yang bertanggung jawab atas pilihan kita. Mengikuti tata krama keluarga atau tidak, kitalah yang memilih. Mengikuti tuntutan keluarga atau tidak, kitalah yang memilih.

Apakah mungkin kita tetap memiliki pilihan ketika menghadapi tuntutan? Kita tetap punya pilihan. Kita mempunyai pilihan untuk tidak mengikuti tuntutan orang lain, hanya saja konsekuensinyalah yang tidak ingin kita terima. Kadang kita hanya melihat konsekuensi jangka pendek. Kita tidak sadar kalau pandangan orang lain bisa berubah beberapa waktu kedepan. Kita juga tidak sadar akan hasil jangka panjang yang dapat kita raih. Akhirnya kitapun sadar bahwa kita salah memilih. Jika merasa salah memilih, yang akan orang dewasa salahkan adalah dirinya sendiri karena dialah yang secara sadar memilih. Ketika kita menyalahkan orang lain, kita sama saja dengan menjadi anak-anak. Meminta orang lain bertanggung jawab atas kita.

Untuk menjadi dewasa, pilihan yang tersaji memang tidak selalu menyenangkan tetapi kita selalu memiliki pilihan atas apa yang hendak kita lakukan. Dengan ini tentunya kita sadar bahwa setelah menjadi dewasa, tanggung jawab ada di tangan kita. Pilihan juga ada di tangan kita. Menjadi dewasa atau menjadi anak-anak adalah pilihan.

Kamis, 23 Mei 2013

English Vocabulary - Restaurant (Paying)

1. I'm full. = Aku kenyang. (AmE)
    I'm full up. = Aku kenyang (BrE)
2. Let's pay the bill/check first. = Bayar dulu yuk.
3. Bill please. = Minta bon/struk nya ya. (BrE)
    Check please. = Minta bon/struk nya ya.(AmE)
4. Would you guys want to pay together or separate? = Mau bayar sendiri-sendiri atau berdua?
5. I'll pay you back when we get to an ATM. = Nanti aku ganti uangnya kalo aku udah ambil uang di ATM.
6. Do you have smaller notes/bills? = Punya uang receh nggak?
    Keterangan: Note/bank note biasa digunakan di Inggris. Sementara bill biasa digunakan di Amerika.
7. This is your change. = Ini uang kembaliannya.
8. I don't have any change. = Nggak ada kembaliannya.
9. You can keep the change. = Ambil aja kembaliannya.
10. Yes, it's a tip for you. = Iya, itu tip untuk kamu.

English Phrases - Taxi

English for Taxi Drivers


English for Taxi Drivers

Welcome

  • Hi / Hello
  • Good morning
  • Good afternoon
  • Good evening
  • How are you today?
  • Hi. I can take 4 passengers.

Destination

  • Where can I take you?
  • Where are you going?
  • What's your destination?
  • I don't know that place. Do you have a map?
  • Can you show me on this map?
  • Are you in a hurry?
  • It is very close.
  • It is pretty far away.
  • It will take about 15 minutes.
  • It takes about one hour to get there.
  • It is faster to take the expressway but you have to pay the toll.

Understanding the passenger

  • Speak slowly, please.
  • Sorry, I don't understand.
  • Yes, I understand. I'll take you there.
  • Please ask someone to write it in Thai / Chinese / etc.
  • No problem.

Special instructions / requests

  • I'll put your luggage in the boot / trunk.
  • Put on your seat belt, please.
  • Is it okay if I open a window?
  • Is the air-conditioning okay?
  • Please don't eat in the car.
  • No smoking, please.
  • Do you want me to wait?
  • I have to get some gas.

Traffic conditions

  • It's rush hour.
  • There's a traffic jam.
  • The traffic is bad over there. You'll get there faster if you walk from here.
  • I think there's been an accident.
  • I'll try a different way.

Fare and fees

  • The total price is $10.
  • Thank you for the tip.
  • Do you have smaller notes/bills?
  • I don't have any change.
  • The customer pays for the expressway, OK?
  • You in a hurry? Take the expressway?
  • There is a tollway fee. You pay the fee, ok?

Goodbye

  • Watch out for motorcycles before getting out!
  • Don't forget your things.
  • Thank you for your business.
  • Hope to see you again.
  • It's been nice chatting with you.
  • Enjoy your stay in Thailand / China / etc.
  • You're welcome.

No service

  • Sorry, that is out of my boundaries.
  • I can't go there. I would have to come back without a fare.
  • Sorry, I don't go to the airport.
  • I'm all done for the day / night.
  • I have to return the car on time.
  • My car needs servicing.
  • I'm sorry. Have a nice day.
  • I can call another driver / company for you.

Small talk

  • Have you been here before?
  • Are you from around here?
  • How do you like Bangkok / Beijing / etc?
  • Are you here on business?
  • Are you staying long?
  • Good weather, huh? Not too hot, not too cold.
  • I hope the weather gets better for you.

Things a passenger could say

  • Can I get a ride?
  • How many people can you fit?
  • How long will it take?
  • Please wait for me.
  • You can keep the meter running.
  • Do you have a flat fee to the airport?
  • I'm in a bit of a rush.
  • Can we get there by 10 o'clock / noon / 4pm / etc?
  • Could you slow down, please?
  • Is this the quickest way?
  • Do you take credit cards?
  • Do you have change?
  • Keep the change.
  • Thanks for the ride / lift.
Wordchecker
  • passenger: person travelling in car, bus, train (not the driver)
  • destination: place where you want to go
  • map: diagram or picture showing streets and roads
  • in a hurry: rushed; need to go fast
  • expressway / motorway: fast road
  • tollway: fast road with fee
  • toll: charge; fee
  • boot / trunk: box at back of car for luggage, cases etc
  • seat belt: strap to hold somebody in their seat in a car or airplane
  • accident: crash; a car hitting another car or a person
  • fee: price; charge
  • note/bill: paper money
  • boundaries: limits
  • fare: price for taxi; passenger
  • flat fee: fixed price
  • in a rush: in a hurrry; late; want to go fast

    Source: http://www.englishclub.com

Kamis, 14 Maret 2013

Ada Mereka

Ayahku
Meskipun ayahku suka mengeluarkan kata-kata tajam bahkan kasar, tapi ia suka memperhatikan hal-hal kecil. Seperti ketika ada acara di kantor, ayah tidak akan memakan makanannya. Ia lebih memilih membungkusnya untukku. Ketika ayah melihat dompetku rusak, ia langsung membawa pulang dompet baru untukku.

Ibuku
Beda dengan ayah, ibu tidak pernah mengucapkan kata-kata yang tajam meskipun sedang marah. Tidak seperti ayah yang selalu menganggapku masih kecil, ibu sadar kalau aku sudah dewasa makanya ia selalu mengajakku ngobrol jika ada hal yang perlu diperbaiki. Meskipun kadang tidak nyambung dengan obrolan yang berat, tapi ibu memiliki kecerdasan sosial yang tinggi. Ibu bisa melakukan pekerjaan laki-laki seperti memperbaiki kran bocor, membetulkan kipas angin, dll. Ibu memang kerap terlihat tomboy. Sebelum memakai jilbab, ibu kerap disangka polwan. Namun ia tetap terlihat cantik dan aku iri.

Budeku
Karena budeku, aku suka ke perpustakaan. Ia yang mengajakku ke perpustakaan untuk pertama kalinya saat aku masih kecil. Ia suka memanjakanku ketika aku masih kecil. Kerap menggendongku, membelikan aku makanan cepat saji, dan memainkan sulap untukku. Ketika aku mulai besar, budeku lah yang paling sering menemaniku pergi ke tempat-tempat baru. Ketika aku tidak ada teman untuk diajak pergi, biasanya budeku selalu bersedia menemaniku.

Kak Novi
Ia lebih seperti saudara kandung dibanding sepupu. Ia bahkan mengirimiku uang jajan bulanan beberapa semester terakhir. Ia dulu pernah mengajariku makan di meja makan ketika aku masih kecil. Katanya, jangan memasukkan makanan terlalu banyak ke dalam mulut. Lebih baik ambil sedikit, kunyah, telan. Ambil sedikit, kunyah telan. Kami jarang bertemu, tapi sekalinya bertemu, dia selalu memberi nasehat yang singkat, padat dan tepat.

Mbak Devi
Ia juga sepupuku. Saat aku masuk SMA, ia mulai kerja di Jakarta. Aku pun berbagi kamar dengannya. Dulu hubungan kami agak dingin. Alhamdulillaah sekarang sudah akrab. Bertahun-tahun sekamar, baru pas kuliah aku sadar kalau dia adalah teman yang asik.

Isti
Kalau tidak salah semester 1 atau 2, aku pernah membatin, "Ini orang atau malaikat ya? Kok ada orang sebaik dia?" (Hahaha ini kalo orangnya baca pasri GR.) Aku bingung, dia anak terakhir dari 5 bersaudara, tapi perilakunya seperti kakak perempuan. Ngemong. Apa ini karena dia lebih tua dua tahun dariku? Haha, entahlah, yang pasti aku senang bisa punya keluarga di sini.

Teh Laras
Pementorku yang satu ini, selalu menjawab pertanyaan-pertanyaanku, meladeni curhatanku, membantu menghilangkan kegamangan dan kegalauanku. Biasanya masalah pemikiran dan aqidah.

Endah
Ini juga sama ngemongnya kaya Isti. Ya mungkin karena mereka berdua umurnya sama kali ya? Hahaha peace.

Winda
Meskipun baru ngobrol banyak beberapa minggu yang lalu, tapi sepertinya kita nyambung dan bisa jadi teman yang baik.


Keberadaan mereka ini harus disyukuri...

Curhat dikit ya...

Tugas menumpuk, saya malah nge-blog. Habisnya sudah tidak tahan lagi. Saya kangen rumah. (Ssst tapi jangan bilang-bilang ya)
"Kenapa kangen rumah?" Saut Jennifer'. (Baca: Jennifer aksen)
Karena kaya sedang sakit.
Lah kalo sakit terus kenapa? Lagian kenapa bisa sakit?
Nanya mulu lo! Ya karena saya merindukan hal-hal di rumah yang tidak saya dapatkan di sini. Kenapa bisa sakit, begini ceritanya.

Sejak Jumat lalu saya demam entah kenapa. Namun saya tetap beraktivitas karena suhu tubuh tidak tinggi-tinggi amat. Saya pun meminum obat panas dalam untuk jaga-jaga.

Sabtu pagi, muncul deh masalahnya. Ternyata saya bersin-bersin dan pilek. Salah prepare deh, harusnya minum vitamin c terus tidur 10 jam kalo tau bakal pilek. Dan ada satu masalah lagi (nggak boleh dibilang masalah si, hal ini harusnya disyukuri, berarti kan masih bisa reproduksi), hmm bagaimana bilangnya ya, to the point saja lah, datang bulan. Sebenarnya kalau melihat jadwal bulanan, hal ini datang tepat waktu, tidak lebih cepat, tidak juga terlambat. Tapi saya masih berharap agar datangnya terlambat saja, karena hari itu saya harus ke Lembang.

Bersiap-siaplah saya untuk pergi ke tempat yang dingin itu. Sempat sarapan sedikit, tapi tidak sempat minum obat karena saya lupa menaruh obat flu dimana. Sudah hampir jam 8.30, jadi tidak ada waktu lagi buat mengobrak-abrik kamar dan lemari makanan.

Tepat jam 8.30, saya sampai di bank BNI tempat kami berkumpul. 5 menit kemudian, kami menuju pangkalan Damri. Hari itu cerah di Jatinangor. Wajah kami sedikit berkeringat karena tidak berteduh. Lumayan sih, matahari pagi (eh masih bisa dibilang matahari pagi nggak sih jam segitu?)

Sekitar 5 sampai 10 menit kemudian Damri tiba dan kami berangkat. Mungkin karena terkena sinar matahari, hidung saya masih baik-baik saja di perjalanan menuju Pusdai. Tapi di perjalanan dari Pusdai menuju Lembang, saya mulai menghabiskan tissue.

Sesampainya di Lembang yang dingin itu, saya terus menghabiskan tissue. Selain karena terserang virus, perubahan suhu yang drastis juga kerap membuat saya sakit. (Jatinangor panas, Lembang dingin) Saya pun bersin-bersin ketika rapat. (Maaf ya akang2 teteh2, sedikit mengganggu rapat dengan bersin yang suaranya aneh)

Di perjalanan pulang, mulai terasa nyeri haidnya. Tidak terbayang ya deskripsi nyerinya? Ok, saya bantu anda membayangkannya. Pernah sakit pinggang? Jika belum pernah, pasti pernah merasa ngilu kan di bagian tubuh manapun? Bayangkan rasa ngilu itu ada di bagian pinggang. (Bukan di sisi samping ya, tapi di sisi belakang.) Rasanya seperti tulang ekor mau copot dari tempatnya. Lalu bayangkanlah ada pisau yang baru diasah. Semakin banyak semakin mengerikan. Tapi kali ini tidak terlalu sakit, jadi bayangkan 1 pisau saja. Bayangkan pisau itu ada di dalam perut anda, di bawah pusar tepatnya. Anda bergerak sedikit saja, sisi tajam dari pisau itu dapat menggores atau menyayat dinding perut anda. Seperti itulah kurang lebih gambaran rasa sakitnya.

Saya sudah lumayan sering berolahraga untuk menghindari nyeri haid. Tapi sepertinya, olahraga dua kali seminggu memang kurang untuk saya. Kata psikolog saya, nyeri haid bisa juga disebabkan oleh ketegangan psikis yang tinggi. Ketegangan yang begitu tinggi harus disalurkan ke aktivitas fisik yang agak berat dan intens. (Ketegangan psikis disebabkan oleh tekanan dari lingkungan sosial maupun dari dalam diri. Ada pressure sedikit saja saya langsung tegang.) Jadi sebenarnya, faktor psikis lebih banyak berpengaruh terhadap kesehatan saya, terutama kesehatan saat datang bulan.

Untungnya minggu lalu saya sudah diurut, jadi tidak terlalu sakit. Kalau biasanya di perut saya terasa seperti ada 3 sampai 5 pisau, kali ini hanya ada 1 sampai 2 pisau saja. Kalau masalah sakit pinggang kata tukang urutnya saya kurang minum, jadi menambah rasa sakit. Padahal di tempat kos, yang paling banyak minum adalah saya. Mungkin karena banyak berkeringat, jadi banyak minum pun masih kurang.

Di Lembang pun saya sudah minum air putih paling banyak, namun masih haus saja. Saya pun menghabiskan sebotol minuman pengganti ion tubuh yang iklannya dibintangi oleh JKT48 itu di perjalanan pulang. Lumayan ilang sih hausnya.

Oiya, saat membeli minuman pengganti ion tubuh itu, saya juga membeli dua bungkus tissue isi 12. Travel tissue isi 50 (tapi pas saya bawa dari Jatinangor, isinya tinggal setengah), sudah habis saat selesai rapat.

Di perjalanan pulang, sambil menghabiskan tissue (lagi) serta miring sana miring sini mencari posisi duduk nyaman, saya memikirkan makan malam saya. Yang tidak enak adalah membayangkan makan sendirian ketika sakit. Saya jadi ingat ketika di rumah, ayah saya selalu mengajak saya makan bersama, tapi saya selalu berkata belum lapar. Saya sering malas makan bersama ayah saya, karena ayah saya sangat rewel soal tata krama ketika makan. Sekarang saya merasa menyesal bahkan sangat menyesal terhadap sikap saya yang seperti itu. Dan sekarang, saya bahkan merindukan makan bersama keluarga.

Waktu itu pukul 17.30 di tol menuju Cileunyi. Saya pun mengirim sms ke teman satu wisma saya.
Fi, udah di wisma belum?
Udah teh. Balas Afi
Kamu udah makan belum?
Belum teh.
Bale Cafe buka nggak ya?
Buka teh, tapi aku udah pesen makanan teh.

Ya sudahlah, mau tidak mau makan sendirian, mau bagaimana lagi. Saya pun memikirkan tempat makan yang ramai agar saya tidak terlalu merasa sendirian, namun saya tidak ingin bertemu orang yang saya kenal juga. Saya malas mendengar pertanyaan, "Sama siapa? Sendirian?" Ini malam minggu, pasti banyak orang-orang yang saya kenal sedang nongkrong di tempat makan. Dan ketika saya sedang sibuk melamun memikirkan tempat makan, teman saya mencolek saya dan saya pun sadar kalau kami sudah sampai di Jatinangor.

Kami pun turun dari bis. Seperti biasa, kami bersalaman, ber-cipika-cipiki, dan berkata "Dah, ati-ati ya." Saat mereka pergi, saya masuk ke mini market untuk membeli madu dan susu agar daya tahan tubuh saya terjaga. Selesai membeli susu dan madu, saya keluar dari mini market sambil melihat ke sekeliling. Kebetulan di sekitar mini market dekat pangkalan Damri itu, banyak sekali tempat makan. Saya mikir-mikir dulu mau masuk ke mana. Kebetulan saya juga harus ke ATM, jadilah saya masuk ke Jatos.

Setelah mengambil uang di ATM, saya berpikir lagi. Makan di food court Jatos atau makan di restoran sekitar pangdam (pangkalan Damri). Saya pun memutuskan untuk melihat food court dulu, kalau ada yang saya kenal, saya tidak jadi makan di situ. (Alhamdulillaah mata saya sehat, dan saya peka terhadap gestur orang-orang, jadi dari jauh saja, saya sudah ngeh kalau itu orang yang saya kenal.) Ternyata tidak ada orang yang saya kenal. Bangku food court pun tidak penuh, masih ada beberapa bangku yang kosong. Baiklah saya makan di situ.

Saya pun meletakkan tas dan kresek belanjaan di meja. Beberapa orang menoleh. Saya pun pasang tampang songong sambil duduk perlahan. Lirikan tajam meremehkan, bibir agak cemberut, dan dagu agak terangkat. Ekspresi ini kerap saya gunakan saat saya sedang berjalan sendirian. Ekspresi ini seolah isyarat, "See, I'm confidence." atau "I'm hanging out with my self because I need to be alone right now. Hey! I'm not lonely."

Makanan datang. Saya pun makan sambil melihat orang-orang sekitar. Ada bapak-bapak dan ibu-ibu yang makan bersama anak-anaknya, ada yang lagi pacaran, ada rombongan cewe-cewe berisik, ada perempuan usia 25an bersama anak 12 tahun (mungkin adek mungkin keponakan). Saya tidak memperhatikan lebih lanjut, saya hanya melihat sekilas lalu fokus pada makanan dan lamunan.

Saya merasa lebih baik setelah makan, mungkin karena suasana ramainya. Saya pun keluar dari food court. Saya melihat kursi pijat refleksi berjejer di depan food court. Saya pun ingin duduk di situ karena badan saya pegal dan ngilu, tapi lagi-lagi saya enggan ada orang yang saya kenal menyapa saya dan bertanya, "Sama siapa? Sendirian?" Saya pun melewati kursi itu. Saya pun sangat menyesal melewati tempat pijat refleksi itu tanpa mampir dulu. Ingin sekali saya membalikkan langkah. Langkah saya pun terhenti di depan eskalator. Saya pun berpikir lagi, mampir atau tidak.

Lalu saya ingat kalau saya bawa buku. (Loh apa hubungannya?) Ya jadi nanti, kalau ada orang yang bertanya-tanya, saya bisa jawab, "Iya sendirian. Tadi si abis ada kumpulan di Lembang. Pas mau pulang, keinget ada yang mau dibeli di Super*ndo, terus liat ada pijat refleksi, sekalian aja deh mampir ngilangin capek." sambil memegang buku yang terbuka, biar tetep terkesan cool. Hehe.

Akhirnya saya pun kembali ke tempat pijat refleksi itu. Saya pun duduk tertunduk membaca sebuah buku sambil menikmati pijatan otomatis dari sebuah kursi. Eh tunggu-tunggu, kok menikmati? Orang sakit refleksinya.

Saat sedang dipijat, saya teringat ketika saya nyeri haid waktu SMA. Sakit saya sekarang-sekarang ini tidak ada apa-apanya dibanding dulu. Dulu saya kerap menangis kesakitan. Dan ibu saya dulu kerap memasukkan air panas ke dalam botol, lalu botolnya ditempelkan di perut saya untuk mengurangi rasa sakitnya. Ibu saya juga kerap memijat-mijat pinggang saya ketika itu. Tidak seperti di sini, saya dipijat oleh mesin.

Sesampainya di wisma, saya merebahkan diri ke kasur, masih merindukan ayah dan ibu.

Jumat, 30 November 2012

Kutipan dari buku "Young, Rich, and Famous"

Perjalanan Terhebat dalam Hidupmu, Seberapa Besar Impianmu?

-Yakini Kehebatanmu!
-Ambil Satu Langkah Dalam Satu Waktu Saja
-Sediakan Waktu Untuk Belajar
-Bikin Standar Sendiri Saja!
-Berfikir Untuk Dirimu Sendiri
-Kenali Siapa Dirimu

Renungan Malam

Setelah gue pikir-pikir, gue emang nggak realistis, apalagi empiris. Gue emang punya dua dunia, satu yang gue tempatin, satu lagi ya di kepala gue. Makanya gue mikir, apa fungsi dari blog ini?

Blog ini gue namain "Makna Kehidupan", kedengerannya serius dan memotivasi, kenyataanya? (preett) Gue liat lagi keterangan blog ini, "Tempat sampah". Ya gimana nggak puguh, orang judul sama keterangan nggak relevan, bahkan paradoks. Tadinya gue mikir, sampah itu lebih bermakna dibanding mutiara. Tapi kayaknya judul "Makna Kehidupan" memotivasi gue buat nulis berat coy, nulis tentang buah pemikiran gue, analisis gue, dll. Plus, ngasih pencitraan yang berat juga.

Emang si, yang nge-view blog ini lebih banyak dua kali lipat dibanding blog gue yang satunya. Tapi gue yakin view sebanyak itu gara-gara beberapa tulisan gue yang searchable di Google Mungkin beberapa rada ilmiah, soalnya gue sering nge-post tugas yang mau gue delete dari laptop. (LOL! Laptop penuh data, tapi sayang juga mau ngebuang tugas --yang udah dukumpul-- kalo inget usaha nyelesaiinnya, jadi post aja di blog)

Kalo emang blog ini enak dibaca, kenapa temen-temen gue nggak mau follow blog gue yang ini? Terus temen-temen gue nggak ada yang pernah tuh ngobrolin tentang isi blog gue yang ini. Kontras banget sama blog "Tak Perlu Keliling Dunia" gue yang sering diobrolin sama temen-temen gue.

Ya, gue emang nggak cocok jadi esais amatir. Gue mungkin lebih cocok jadi cerpenis amatir karena pemikiran gue yang full of fantasy. Jadi kalo bikin esai pun, gue sering ngebawa fantasi dan lupa kalo orang berharap esai itu realistis atau empiris.

Tapi gue nggak bisa ngehapus blog ini, gue tetep butuh coret-coretan, draft, tempat sampah. Jadi gue ganti aja nama blog nya jadi Tempat Sampah. Eh, tapi kalo gue taro buah pemikiran gue di tempat sampah, emang gue mau ngubek-ngubek tempat sampah? (Kalo sewaktu-waktu gue butuh buah pemikiran gue yang terbuang itu.) Yaudah gudang deh. Tapi gudang juga agak kotor. Terus kalo nyari sesuatu di gudang tuh seringnya nggak ketemu karena udah nyelip-nyelip sana sini. Yaudah kalo gitu buku coret-coretan deh. Dari dulu gue punya buku coret-coretan buat gudang ide, buat nulis vocabulary penting, buat brainstorming, banyak deh. Ok, "Buku Coret-Coretan", deal!