Rabu, 11 April 2012

Pembicara Seminar Wirausaha yang Bertolak Belakang

Dua pegusaha ini tak diragukan lagi kredibilitasnya. Dengan seringnya jam terbang mereka sebagai pembicara di seminar-seminar, membuktikan bahwa banyak orang yang mempercayai mereka sebagai orang besar atau orang sukses. Indikator sukses dalam berwirausaha biasanya adalah kepopuleran sang wirausahawan atau kemapanan yang terlihat. Orang-orang yang mendatangkan mereka sebagai pembicara pastinya percaya kalau mereka punya "senjata pamungkas" yang bisa mengantarkan mereka pada kesuksesannya saat ini.


Dua pengusaha yang sama-sama memiliki "senjata pamungkas" ini memang tidak saling kenal, tetapi pesan yang mereka sampaikan sepertinya saling menentang.
Pengusaha pertama menjadi pembicara di Seminar Entrepreneurship yang diselenggarakan BEM GAMA FASA (sekarang FIB) Unpad. Pengusaha kedua menjadi pembicara di Seminar Bisnis yang diselenggarakan Himabis Unpad.


Pengusaha pertama berkata, "Lebih baik kehilangan masa muda daripada kehilangan masa depan." Singkat cerita, pengusaha ini berasal dari keluarga yang kurang mampu. Ketika sekolah, ia harus kerja serabutan untuk mencukupi kebutuhannya. Pengusaha ini lebih banyak menghabiskan masa mudanya untuk mempelajari ilmu komputer dibanding pergi ke tempat-tempat hiburan. Pengalamannya memberinya kesimpulan dalam sebuah kalimat yang ia bagikan kepada pendengarnya.


Pengusaha kedua berkata, "Jangan kuper, banyakin main aja, dengan begitu wawasan dan pertemanan kamu akan lebih luas." Pendapatnya ini pun merupakan kesimpulan dari pengalaman dan pencapaiannya sekarang. Ia adalah pemilik kafe terkenal di Bandung. Kemahirannya dalam mengembangkan sebuah kafe didapatnya dari pengalaman masa mudanya yang sering bermain dari satu kafe ke kafe lainnya.

Awalnya saya dibingungkan dengan dua pendapat yang terdengar bertentangan ini.

Setelah beberapa pekan, saya memikirkan kembali dua pendapat ini. Saya anggap pencapaian mereka sekarang adalah titik akhir. Sedangkan cerita mereka ketika SMA adalah titik awal. Di dalam proses pencapaian titik akhir, mereka memilih cara yang berbeda, tetapi ada satu yang sama. Proses belajar.

                                                                            ***


Jika saya andaikan adanya posisi susah dan posisi senang...
Pengusaha pertama sepertinya terdengar mengalami posisi susah di waktu mudanya. Sementara pengusaha kedua sepertinya terdengar mengalami posisi senang di waktu mudanya.

Dalam posisi susah, jika ada proses belajar, maka akan ada keuntungan yang biasa disebut hikmah.
Dalam posisi senang, jika ada proses belajar, maka akan ada keuntungan yang biasa disebut hikmah.

(Seperti yang sering diucapkan banyak orang, senang atau susah adalah ujian)

                                                                           ***


Mengikuti dua seminar tersebut pun berarti sebuah pengalaman. Pengalaman biasanya merujuk pada kesimpulan. Kesimpulan saya, proses belajar adalah hal yang paling penting, karena tanpa proses belajar, dua pengusaha tersebut tidak akan jadi pembicara dalam seminar yang saya hadiri.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar